Faktadata.id, Sumenep – Program Universal Health Coverage (UHC) yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Sumenep kembali dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya Hulwatun Faridah (41), warga Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, yang dapat menjalani proses persalinan di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep tanpa terbebani biaya pelayanan kesehatan.
Hulwatun merupakan perempuan asal Purbalingga yang kini menetap di Desa Panaongan bersama suaminya, Ahmad Junaidi (38). Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat keduanya sempat khawatir ketika harus membawa Hulwatun ke rumah sakit untuk melahirkan.
Saat berangkat ke rumah sakit, pasangan tersebut hanya membawa uang sekitar Rp100 ribu. Uang itu sebenarnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk membayar biaya persalinan.
Kekhawatiran itu akhirnya berubah menjadi rasa syukur setelah Hulwatun mendapatkan pelayanan melalui program UHC Kabupaten Sumenep.
Pada Jumat, 21 Agustus 2026, Hulwatun melahirkan seorang bayi laki-laki dalam kondisi selamat. Hingga Minggu (23/8/2026), ia bersama bayinya masih menjalani perawatan di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep dan menunggu keputusan dokter untuk diperbolehkan pulang.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Kami hanya membawa uang Rp100 ribu untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau biaya persalinan harus kami tanggung sendiri, tentu akan sangat berat,” ujar Hulwatun.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep dr. Erliyanti, M.Kes., serta seluruh tenaga kesehatan yang telah memberikan pelayanan selama dirinya menjalani persalinan.
Menurut Hulwatun, keberadaan UHC sangat membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi, khususnya ketika membutuhkan pelayanan kesehatan dalam kondisi mendesak.
“Terima kasih kepada Bapak Bupati Fauzi, Ibu Direktur RSUD, dan seluruh jajarannya. Program UHC sangat membantu kami dan masyarakat yang kurang mampu,” katanya.
Tak Hanya Bebas Biaya, Pelayanan Juga Dinilai Humanis
Hulwatun mengatakan, manfaat program UHC yang dirasakannya bukan hanya terkait pembiayaan pelayanan kesehatan. Selama menjalani proses persalinan dan perawatan, ia mengaku mendapat pelayanan yang ramah dari para tenaga kesehatan.
Sikap para petugas membuatnya merasa lebih nyaman selama berada di rumah sakit.
“Pelayanannya ramah. Kami dilayani dengan baik dan manusiawi. Kami merasa dihargai. Itu yang membuat saya terharu,” tuturnya.
Ia berharap kualitas pelayanan tersebut dapat terus dipertahankan. Menurutnya, masyarakat kurang mampu tidak hanya membutuhkan akses kesehatan, tetapi juga pelayanan yang mengedepankan sikap ramah dan menghargai pasien.
“Semoga pelayanan seperti ini terus dipertahankan. Kami masyarakat kecil sangat terbantu,” harapnya.
UHC Perluas Akses Pelayanan Kesehatan
Program UHC Kabupaten Sumenep mulai diberlakukan sejak 7 November 2022. Program tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh pelayanan kesehatan sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku.
Bagi Hulwatun, program tersebut kini bukan lagi sekadar kebijakan pemerintah yang ia dengar dari berbagai informasi. Ia telah merasakan secara langsung manfaat UHC ketika harus menjalani persalinan di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.
Uang Rp100 ribu yang dibawanya saat berangkat ke rumah sakit menjadi gambaran kondisi finansial keluarganya. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya untuk mendapatkan pelayanan persalinan.
“Program UHC sangat membantu masyarakat, terutama orang yang tidak mampu seperti kami. Semoga terus berjalan dan semakin baik,” ujarnya.
Kisah Hulwatun dan Ahmad menunjukkan bahwa jaminan kesehatan dapat memberikan rasa aman bagi keluarga kurang mampu ketika menghadapi kebutuhan medis.
Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka tetap dapat memperoleh pelayanan persalinan hingga menyambut kelahiran putra mereka dengan selamat.
Kini, keluarga kecil tersebut hanya menunggu izin dokter untuk kembali ke rumah di Desa Panaongan. Bagi Hulwatun dan Ahmad, kelahiran sang buah hati menjadi kebahagiaan tersendiri, ditambah rasa syukur karena mendapatkan akses pelayanan kesehatan saat berada dalam kondisi yang membutuhkan.










